Jumat, 30 Desember 2016

maslahah dan mafsadah

Antara maslahah dan mafsadah

Ketika kita dihadapkan dengan keadaan memilih atau tidak sebuah pilihan, mengerjakan atau menghindari sebuh pekerjaan. Dan kita bingung menyikapinya.
Maka, lihat sisi maslahah dan mafsadahnya. Kita harus jeli melihat unsur yg terkandung dalam sebuah keadaan atau tindakan.
Maslahah sendiri berarti kesejahteraan, dan mafsadah adalah kerusakan.
Namun, ketika dua2nya kita temui, maka lihat sisi dominannya. Dan seharusnya kita harus mendahulukan untuk menolak mafsadah (kerusakan), kalau ada unsur kerusakan maka jauhi dia (baik itu dalam bentuk pekerjaan yg mengandung mafsadah)

Rabu, 28 Desember 2016

puisi BACA

BACALAH KAWAN
Senangilah membaca
Gemarilah membaca
Dengan membaca anda tau tentang dia
Dia yang menyimpan banyak makna
                                                            Dia, yang perlu kau baca Bukan hanya buku
                                                            Dia, bukan hanya tulisan yang ada dalam kertas
                                                            Tapi dia ada di sekeliling mu
                                                            Yang perlu kau baca dan teliti
Bacalah kawan…….
Agar kau berilmu pengetahuan
Agar kau mengerti dengan keadaan
Demi hidup mu di masa depan
                                                     

Puisi Hujan

HUJAN MAHKOTA KEHIDUPAN
Dalam suara tetesan air hujan
Tergetar hati ku karena suaramu
                                                Tuhan……. …….
                                                Begitu indah hujan-Mu
                                                Menutupi kesunyian ku
                                                Teman sejati dalam kesendirian ku
Hujan……. ..
Engkau laksana mahkota kehidupan
Engkau adalah lambang kemenangan
Engkau turun untuk mengalahkan kekeringan
Untuk menumbuhkan tanah bumi tersayang
Hujan…... ..
Ku mohon jangan pernah malu
Malu dengan suara keras mu
Karena ku yakin di balik suara keras mu
Tersimpan kerendahan hati mu
Terima kasih Tuhan……. …..

Dengan hujan mu yang begitu indah dan menakjubkan

contoh puisi untuk perusak bumi

ENTAH SAMPAI KAPAN
Sampai kapan wahai penghianat kehidupan..?
Tidak adakah dalam hatimu rasa keimanan..?
Tidak bisakah kau menjaga setiap makhluk Tuhan..?
Sampai kapan kau tidak sadar bahwa kau di beri amanah untuk di emban..?
                                    Entah sampai kapan….?
                                    Kapan alam ini bisa tersenyum riang gembira…?
                                    Kapan pula lingkungan bisa berterimakasih kepada kita..?
                                    Kalau dia hanya di rusak dan di kotori oleh anda.
Entah sampai kapan..?
Sampai kapan lingkungan ini terus di sakiti dan di curangi..?
Sampai kapan dia di rusak dan di kotori..?
Sampai kapan wahai yang tidak tau jati diri..?
                                    Entah sampai kapan…?
                                    Sampai kapan aku terus bertanya..?
                                    Sedangkan kau hanya menutup hati dan telinga

                                    Kau, yang tidak mau bersahabat dengan dunia.

Essay pesantren



PESANTREN SEBAGAI WADAH UNTUK BERSAMA MERAJUT UKHWA DALAM MULTIKULTURAL SUKU, AGAMA, RAS DI INDONESIA

Sangat tidak terelakkan, kalau masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, baik dari segi budaya, ras maupun agama. Secara pisik, kepulauan nusantara terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau besar dan kecil, baik yang dihuni ataupun tidak. Selain itu, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, adat istiadat, dan bahkan agama yang menunjukkan kemajemukan sosial budaya.

Dengan adanya multikultural tersebut merupakan modal besar bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi modal ini juga bisa menjadi bencana karena berpotensi untuk menimbulkan konflik. Tak heran jika kita sering menyaksikan serangkaian kerusuhan yang memakan ribuan korban tewas karena keragaman diatas tadi. Sebutlah kasus Pekalongan (1995), Tasikmalaya (1996), Rangasdengklok (1997), Sangau Ledo, Kalimantan Barat (1996 dan 1997), Ambon dan Maluku sejak 1999, Sampit Kalimantan Timur (2000), dan masih banyak lagi hingga sekarang ini.
  
PEMBAHASAN
Manusia pada dasaranya tidak sama dengan manusia lainnya. Kemiripan identitas yang melekat pada diri manusia nyatantya tidak menjadikannya sama dengan yang lainnya. Sifat manusia yang senantiasa selalu berusaha untuk menciptakan kebaruan dalam kehidupannya, yang mana hal tersebut merupakan sifat aslinya, membuat manusia tidak pernah puas dan selalu ingin mengembangkan dirinya. Identitas manusia pun menjadi tidak bersiafat statis, melainkan terus bergerak dinamis sesuai dengan caranya dalam mengembangkan potensi-potensi dalam dirinya. Keadaan yang terus bergerak dinamis inilah lalu memunculkan sebuah keadaan masyarakat plural, yaitu keadaan masyarakat yang di dalamnya memiliki beragam perbedaan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Keragaman perbedaan inilah yang menjadi ciri masyarakat yang majemuk, yang mana telah menjadikan keadaan masyarakat saat ini dilukiskan dengan tatanan sistematis yang terklasifikasi. Hal inilah yang disebut dengan multikultural.

Di Indonesia sendiri keberagaman adalah hal yang tidak bisa dipungkiri, mulai dari agama, suku dan juga ras. Keberagaman agama, merupakan kenyataan bahwa perkembangan sejarah dan kebudayaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sentuhan dan pengaruh agama-agama yang ada dan berkembang di Indonesia. Mula-mula datang agama Hindu, disusul oleh Budha, Islam, kemudian Kristen baik Protestan maupun Katolik. Harus pula dicatat kalau kedatangan bangsa China yang membawa agama Kong Hu Chu ikut pula memperkaya dunia keagamaan di Indonesia .

Keragaman seperti ini merupakan modal besar bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi modal ini juga bisa menjadi bencana karena berpotensi untuk menimbulkan konflik. Bagaimana tidak, dari dulu sampai sekarang ini sering terjadi konflik terutama diakibatkan oleh agama.

Upaya untuk menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia sebenarnya telah lama dibina. Sejak tahun 1967 hingga sekarang dialog antar agama gencar dilaksanakan baik atas prakarsa pemerintah maupun masyarakat sendiri. Upaya tersebut kemudia dikenal dengan Musyawarah Agama, yang melibatkan para pemuka agama di Indonesia.

Kemudian, keberagaman suku memang sudah ada dari dulu, dimana pada struktur sosial Arab sebelum Islam pada dasarnya bersifat kesukuan. Kenyataan aktual, kaidah solidaritas kesukuan kadanga-kadang juga dilanggar, sekalipun para tokoh masyarakat padang pasir berkperibadian begitu kuat dan menentukan dalam memelihara loyalitas kepada ajaran-ajaran kesukuan. Adanya keberagaman suku ini juga tidak bisa dilepaskan dari bumi Indonesia, yang juga sering terjadinya konflik antar suku.

Dalam Islam sendiri, bahwa ada beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan kepada multikultural, yang apabila kita hayati maka diharapkan buhungan antar sesama kita, manusia dengan segala macam keanekaragaman ideologi, back ground sosial, etnik, dan sebagainya dapat terjembatani memaluli nilai-nilai yang terkandung dalam Islam.

Dalam al-Qur’an surat al-Hujrat ayat 13, yang berbunyi:
ياايها الناس انا خلقناكم من ذكر و انثى و جعلناكم شعوبا و قبائل لتعارفوا ان اكرمكم عند الله اتقاكم ان الله عليم خبير

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Jadi, dijadikannya makhluk yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah dengan harapan satu dengan lainnya dapat berinteraksi dengan baik dan positif. Jelas al-Qur’an memberikan kepada kita alasan yang rasional penciptaan manusia dengan beragam bangsa, bahasa, suku dan budaya.
Yang menjadi masalah sekarang adalah dimana wadah yang tepat untuk memulai ukwa/persatuan dari multikultural tersebut? Tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Penulis memberi solusi, baik dari tempat maupun cara untuk membangun ukhwa di Indonesia dari banyaknya keberagaman.

Wadah ataupun tempatnya adalah dimulai dari pendidikan yang didapat dari pesantren. Pesantren tempat berkumpulnya keberagaman suku, ras, bahasa dan lain-lain. Perkataan pesantren berasal dari bahasa sansekerta yang memperoleh wejud dan pengetian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Asal kata sant = orang baik (lk) disambung tra = suka menolong. Santra berarti orang baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berkembang semenjak masa-masa permulaan Islam di negeri kita ini. Lembaga seperti ini sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam dan pada masanya merupakan lembaga pendidikan bagi agama Hindu dan agama Budha. Ide kelembagaan agama Hindu/Budha seperti ini ditransformir oleh Islam, kemudian diberi isi menurut tujuan pengembangan Islam.

Pesantren adalah sekolah berasrama untuk mempelajari agama Islam. Kadang-kadang lembaga demikian itu mencakup ruang gerak yang luas sekali dan mata pelajarang yang diberikan dapat meliputi Tafsir, Hadits, Ilmu kalam, Fiqh, Tuhid dan Tasauf. Beberapa orang siswa ada yang pergi dari pesantren satu ke pesantren yang lain untuk mengikuti pelajaran guru yang kenamaan dan setengahnya ada yang melanjutkan pelajarannya ke Mekkah atau ke Mesir.

Dari pengertian diatas, tentu memberikan gambaran kepada kita bahwa pesantren adalah tempat menuntut ilmu yang terbaik. Didalam pesantren akan adanya sebuah kemajemukan/keberagaman yang membuat para santri didalamnya akan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga santri tersebut akan mencintai yang namanya sebuah perbedaan itu.

Kemudian solusi dengan cara yang penulis berikan adalah:
 Pertama, kita harus sama-sama meyakini bahwa dalam segala hal, baik suku, budaya dan agama tidak adanya paksaan. Embrio paham ‘tidak ada paksaan dalam beragama ini’ bertumpu pada ayat al-Qur’an al-Baqarah ayat 256: “Tidak ada paksaan dalam beragama.

Kedua, Kita harus mempunyai pengakuan akan eksistensi agama-agama lain, antara lain tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 62: orang-orang beriman (orang-orang Muslim), Yahudi, Kristen, dan Shabi’in yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, serta melakukan amal kebajikan akan beroleh ganjaran dari Tuhan mereka. Tidak ada yang harus mereka khawatirkan, dan mereka tidak akan berduka”. Titik tekan ayat ini ada pada aktivitas kongkret umat beragama yang harus berada dalam kategori amal saleh. Itu bearti, masing-masing agama ditantang untuk berlomba-lomba menciptakan kebaikan dalam bentuknya yang nyata.

Ketiga, Kita harus memiliki kesatuan pesan ketuhanan. Konsep ini berpijak pada surat an-Nisa’ ayat 131: “Dan kepunyaan Allah lah apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan sesungguhnya kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, dan (juga) kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah”.

Dalam menjalin ukhwa dari kemajemukan suku dan ras tentunya sama juga. Intinya antara suku yang satu dengan suku yang lain, ras yang ini dan yang itu harus sama-sama menghormati dan menjaga solidaritas antar sesama. Dan juga HAM merupakan milik semua masyarakat Indonesia.
Semua hal itu tentu dapat didapati dan dibiasakan oleh para santri yang menuntut ilmu di pesantren. Sehingga tidak jarang kita jumpai bahwa lulusan-lulusan pesantren mempunyai solidaritas yang tinggi dan tentu meyakini hak-hak sesama.



     KESIMPULAN
Adanya kemajemukan masyarakat di Indonesia harus terus dijaga, bisa saja kemajemukan ini berpengarus kepada sisi positif dan juga bisa kepada sisi negatif. Untuk mengantisipasi hal negatif tersebut kita harusnya sama-sama menggali ilmu ditempat yang sudah tentu adanya kemajemukan, sehingga kita akan terbiasa dengan menerima kemajemukan tersebut dan kita tidak akan merasa kemajemukan itu merupakan sebuah konflik.
Jika terjadinya hal yang negatif, menimbulkan konflik dari kemajemukan tersebut maka kita harus menyelesaikan atau mengatasinya melalui solusi:
1. Kita harus sama-sama meyakini bahwa dalam segala hal, baik suku, budaya dan agama tidak adanya paksaan.
2. Kita harus mempunyai pengakuan akan eksistensi agama-agama lain.
3. Kita harus sama memiliki kesatuan pesan ketuhanan.

    DAFTAR BACAAN
Azra azyumardi. 2008. Membina kerukunan Muslim dan perspektif Pluralisme  universal. Ujungberung: Nuansa.
Hanif Andullah. Dkk.  2004. Masa Depan pesantren. IRD PRESS.
Izutsu Toshihiko. 1995. Etika beragama dalam al-Qur’an. Jakarta: Pustaka pirdaus.
Mattulada. 1996. Agama dan perubahan sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Usman Ali. 2008. Menegakkan Pluralisme. Jakarta: Lembaga studi agama dan filsafat universitas paramadina mulya Jakarta.
Shane antoinetta christy mehakaya. 2012. Kesetaraan Masyarakat Pluralis Demokrasi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Indonesia.
Simuh. Dkk. 2001. Islam dan Hegemoni Sosial. Jakarta: PT Mediacita.